Oleh: Sahyul Pahmi, Santri | Kolomnis | Saat ini Sedang Pelan-pelan Menyeruput Segelas Kopi di Meja Dosen STAI Al-Furqan Makassar.
***
Siang tadi saya mencoba sebuah program kodingan baru berbasis AI. Awalnya sekadar penasaran, lalu berubah menjadi kagum. Dalam hitungan menit, sebuah aplikasi pembuat RPS otomatis untuk mata kuliah yang saya ampu tersusun rapi. Capaian pembelajaran, CPMK, sub-CPMK, sampai matriks penilaian—semuanya hadir tanpa banyak drama.
Sebagai dosen pengembangan kurikulum PAI digital, momen itu terasa seperti menatap masa depan dari jarak yang sangat dekat. Ide-ide proyek bermunculan: sistem evaluasi otomatis, integrasi LMS berbasis nilai keislaman, sampai pengembangan kurikulum adaptif berbasis kebutuhan mahasiswa.
Namun sore hari, seperti biasa, saya ngopi. Dan di antara uap kopi dan sisa kelelahan mental, muncul rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Jika aplikasi pendidikan bisa dibuat dengan semudah ini, lalu apa yang akan terjadi pada ruang-ruang kelas yang selama ini kita jaga dengan khidmat?
Pertanyaan itu tidak datang dengan nada panik, tapi dengan suara pelan yang mengganggu: apakah teknologi ini akan menjadi berkah, atau justru simalakama bagi perguruan tinggi yang tak mampu beradaptasi?
Kita hidup di masa ketika sistem pendidikan perlahan berubah menjadi sistem platform.
Banyak kelas tersedia gratis di YouTube. Banyak sertifikasi online lebih cepat, lebih murah, dan—ironisnya—lebih aplikatif daripada kuliah formal.
Riset dari World Economic Forum (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 50% generasi muda global memperoleh keterampilan baru dari platform digital, bukan dari institusi formal. Pendidikan tidak lagi eksklusif milik kampus.
Di titik ini, kampus tidak lagi menjadi satu-satunya pintu ilmu. Ia hanya salah satu jendela—dan sering kali jendelanya sempit, berdebu, dan susah dibuka.
Bagi perguruan tinggi swasta di pelosok, kondisi ini terasa seperti dua mata pisau. Adaptif berarti butuh sumber daya. Tidak adaptif berarti perlahan ditinggalkan.
Sebagai dosen, saya justru melihat AI bukan sebagai musuh, melainkan cermin. Ia memantulkan satu kenyataan pahit: banyak aktivitas akademik kita selama ini bersifat administratif, bukan transformatif.
Jika RPS bisa dibuat mesin, mungkin selama ini kita terlalu mengultuskan format, lupa pada esensi. Padahal pendidikan Islam sejak awal tidak dibangun di atas template, tetapi pada relasi guru, murid, dan nilai.
Dalam tradisi klasik Islam, ilmu ditransmisikan melalui suhbah—kedekatan, teladan, dan akhlak. Sesuatu yang tak bisa diotomatisasi.
AI bisa menyusun kurikulum, tapi ia tak bisa menanamkan adab.
Ia bisa merancang silabus, tapi tak bisa menumbuhkan kebijaksanaan.
Di sinilah koneksi pentingnya muncul. Teknologi menggeser ruang kelas fisik, tapi justru memperbesar kebutuhan akan ruang kelas maknawi. Ruang dialog, ruang nilai, ruang pembentukan karakter.
Penelitian dari Journal of Educational Technology & Society menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis AI paling efektif ketika dipadukan dengan pendampingan humanistik. Tanpa itu, pembelajaran berubah menjadi konsumsi informasi, bukan transformasi diri.
Artinya, kampus tidak kalah oleh AI karena teknologinya kalah, tapi karena maknanya kosong.
Jika kampus hanya meniru platform digital, ia pasti kalah. Tapi jika kampus menawarkan sesuatu yang tak bisa ditiru algoritma, ia justru akan relevan.
Insight ini membawa saya pada satu kesimpulan sunyi: krisis perguruan tinggi bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada keberanian mendefinisikan ulang perannya.
Dalam kajian pendidikan modern, seperti dikemukakan oleh Ronald Barnett, universitas masa depan bukan pusat transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan identitas intelektual dan etika.
Bagi perguruan tinggi Islam, ini bukan hal baru. Tradisi keilmuan Islam selalu menempatkan manusia, bukan alat, sebagai pusat pendidikan.
AI seharusnya membebaskan dosen dari kerja mekanis, agar ia bisa kembali menjadi pendidik—bukan operator sistem.
Agenda ke depan mestinya bukan menolak AI, tapi melebur bersamanya secara kritis. Menggunakannya untuk efisiensi, tapi menjaga ruh pendidikan tetap hidup.
Kurikulum PAI digital perlu bergerak dari sekadar what to teach menuju why it matters. Dari konten menuju kesadaran.
Kampus di pelosok justru punya peluang: menjadi ruang pembelajaran yang kontekstual, berakar pada komunitas, dan kaya relasi sosial—sesuatu yang tak dimiliki kelas daring massal.
Kopi saya tinggal ampas. Sore berubah malam. Kegelisahan itu belum sepenuhnya reda, tapi terasa lebih jernih.
Bahwa AI bukan akhir dari kampus, melainkan ujian paling jujur tentang siapa kita sebagai pendidik.
Jika kampus hanya menjual ijazah dan sistem, AI akan menggantikannya. Tapi jika kampus menumbuhkan makna, nilai, dan keberanian berpikir, ia tak tergantikan.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah AI akan menggusur ruang kelas?
Melainkan: apakah ruang kelas kita selama ini layak dipertahankan?
~~~
Makassar, 01 Februari 2026
Tulisan ini telah ditanyakan di Kompasiana, disini.

0 Komentar